Sunday, 17 August 2008

Loreley, Musuh Setiap Nakhoda

“A great leader should always focus and look for the right direction and try to avoid he wrong distraction.”

Duduk santai sambil menanti hidangan pembuka ”the magnificent seven” di Schonburg Castle memang sangat mengasyikkan. Sesekali toast dengan anggur spesial membuat suasana makin hangat dan akrab. Dari jauh saya memandangi Sungai Rhein yang luas dan airnya tidak kotor kalau dibandingkan dengan Sungai Ciliwung di Jakarta. Lamunan dan obrolan santai terhenti sejenak ketika saya mendengar alunan lagu yang sangat akrab dengan penduduk sekitar.

Lagu yang tidak biasa tadi membuat saya terkesima, bagai wejangan lampu kuning yang harus senantiasa membuat kita terjaga. Ada banyak musuh di sana yang tak pernah kita kira. Kekalahan bukan karena kompetensi, melainkan karena birahi. Gagal hanya karena menikmati kenikmatan sesaat.

Begini lirik lagu itu yang diterjemahkan secara bebas oleh Dr. Walther, begitu kami biasa memanggilnya, seorang CEO asli Jerman yang mampu membuat turnaround perusahaan yang bisa dikatakan secara teknis masuk dalam Chapter 11. Cahaya rembang sore hari mulai meredup di Sungai Rhein. Makin lama, makin gelap. Ada seorang perawan cantik berdiri di puncak batu karang. Ia menyisir rambutnya dengan sisir dari emas. Pernik keemasan di tubuhnya berkilau-kilau bercahaya sepanjang malam. Ia menyanyi lagu nan indah dan sarat makna.

Nakhoda dan kelasi dalam sebuah perahu kecil menengadah ke atas. Melihat perawan cantik dan mendengar nyanyiannya, hati mereka tersentuh. Makin terbuai, mereka semua terpesona dengan keindahan yang tak pernah mereka pikirkan. Sampai mereka lupa, ke mana mereka akan pergi. Kendali kapal terlepas karena mata memandang sang bidadari. Akhirnya, ombak menelan nakhoda, kelasi, dan kapal kecil itu. Tenggelam menabrak batu karang dan hanyut oleh derasnya aliran sungai. Mereka adalah musuh yang dikalahkan oleh sang perawan cantik. Loreley namanya.

Legenda yang menjadi sejarah nyata bagi banyak pemimpin hingga masa kini. Pemimpin yang lupa akan tugasnya dan asyik bercengkerama dengan distraction sepele, membuat ”kapal” organisasinya oleng, bahkan karam. Batu karang sudah ada di sana. Ia tidak serta merta hadir untuk mengaramkan kapal yang lewat. Kapal yang karam adalah kapal yang menerjangnya. Ia tidak pernah menerjang siapa pun. Menyedihkan sekali.

Fokus pada arah dan tujuan perjalanan adalah petuah kuno yang pasti dikenali oleh setiap nakhoda. Kemudi kecil untuk perahu besar, tidak mudah dibelokkan seperti kemudi sepeda motor di jalan raya. Makin besar perahu yang dinakhodainya, makin sulit melakukan manuver tatkala halangan di depan sudah berada pada radius yang terlalu dekat. Nakhoda tahu, kapan bisa berputar, kapan bisa berkelok, dan kapan harus berhenti sejenak. Kemudi kecil menggerakkan seluruh roda gila agar kapal bisa berputar sesuai kemampuan.

Kala nakhoda sudah kehilangan kendali kemudi pikirannya, kapal akan makin tak keruan. Kala kemudi pikiran sudah berfokus bukan pada arah perjalanan, melainkan pada arah kepentingan pribadi, maka yang terjadi adalah resultante arah yang tidak berada pada jalur pelayaran yang dikehendakinya. Kemiringan setengah derajat pada kilometer pertama kelihatannya seperti aman saja. Setelah mengarungi jarak 10 kilometer, kadang nakhoda terkejut karena arahnya melenceng agak jauh.

Dua kemudi kecil dalam kapal organisasi harus selalu berada pada status “well synchronize”. Kemudi pikiran pemimpin dan kemudi praktek kepemimpinan. Kemudi apa yang dipikirkan dan kemudi apa yang dilakukan. Kemudi apa yang dikatakan dan kemudi apa yang dilakukan. Satunya kata dan perbuatan. Satunya keinginan dan perilaku.

Kala nakhoda sudah mulai bermain dengan distraction, yang bisa berarti keinginan untuk masuk ke bisnis non-core karena melihat ada kesempatan, berarti ia sudah mempertaruhkan kapalnya. Kalau taruhannya gagal, tidak hanya sebagian kapal yang karam, tetapi acap kali seluruh isi kapal habis tertelan ombak karena ujung kapal menabrak karang.

Nakhoda Enron tersandung oleh Loreley berupa derivatif dari perdagangan energi yang sangat menarik. Perdagangan tanpa barang nyata dengan keuntungan yang berlipat dalam satuan detik membungkam para eksekutif yang mau tetap bertahan pada dunia ”brick and mortar”. Perdagangan di dunia maya yang asyik, membuat dunia nyata menjadi makin tidak relevan. ”Hanya eksekutif tradisional yang mau ber-'kotor ria' di dunia pabrikan,” begitu mungkin pemikirannya. Kala Loreley itu sirna, Enron yang pernah menjadi pujaan para scholar dan management consultant itu bangkrut tak berbekas.

Arthur Andersen, konsultan akuntansi kondang yang kokoh, jatuh tersandung oleh Loreley skandal akuntansi yang seharusnya tak boleh dilakukannya. Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat, hampir tenggelam hanya karena distraction oleh Loreley yang tak sepantasnya terjadi. Namun, intern cantik bagi mata Bill, membuat arah hidupnya berubah. Beruntung ia punya Hillary yang mampu mengembalikan kemudi pada peta perjalanan semula.

Saya teringat, banyak eksekutif mumpuni yang piawai menjadi nakhoda di core business-nya hampir tenggelam karena terpesona oleh Loreley bisnis yang kelihatannya menjanjikan dan menggiurkan. Akhir 1990-an, dengan demam mocin (motor Cina), ratusan pengusaha banting setir untuk memulai bisnis ini. Tahun 2005, banyak yang ingin jadi taipan batu bara dan minyak. Kuasa pertambangan diraih secepatnya. Hanya dalam hitungan tahun tak lebih dari satu jari tangan, banyak pemimpin ”sakti” bertumbangan di bisnis yang tak ia ketahui rimbanya. Loreley memang cantik, tetapi tidak semua orang bisa memilikinya. Hanya yang mengerti mampu meraihnya.

Nakhoda yang baik, tahu kapan mencuri pandang sejenak ke Loreley cantik dan kapan kembali ke tugas semula. Kemudi kecil yang sudah usang harus menjadi fokusnya kalau ingin kapalnya selamat sampai tujuan.(Oleh: Paulus Bambang W.S.*)



By,

Harry A
Jusak Harry Antameng / 4424 / P

Monday, 11 August 2008

Para Pelaut Indonesia Masih Menghadapi Berbagai Masalah Serius

Oleh : Pulo Lasman Simanjuntak ( Reporter GPI )

Para pelaut Indonesia sampai saat ini masih menghadapi berbagai permasalahan serius yang perlu mendapat perhatian dan solusi dari pemerintah maupun asosiasi terkait khususnya dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat para pelaut Indonesia. Masalah yang dihadapi antara lain masih adanya pungli (pungutan liar) dalam pengurusan dokumen kepelautan di kantor imigrasi, sertifikat keterampilan (skill), pendidikan kurikulum kepelautan dalam rangka kualitas SDM, penguasaan bahasa Inggris yang masih lemah, kehilangan hak suara dalam mengikuti pemilu lantaran tak ada TPS-TPS di kapal, dan masih banyak lagi.

Masalah ini terungkap dalam acara tanya jawab para pelaut bawahan dan perwira dengan para Pengurus Group Pelaut Indonesia (GPI) seusai acara peresmian Group Pelaut Indonesia (GPI) dengan meluncurkan websitenya yang beralamat di http://indonesianseafarer.com berlangsung di Kampus Stimar "AMI" Jln.Pacuan Kuda No 1-5 Pulo Mas, Jakarta Timur, Jumat 8 Agustus 2008 (mengambil moment 0808 080808).Peresmian GPI dan peluncuran website ditandai dengan pemukulan lonceng kapal sebanyak 8 kali dan menyebut yel-yel "Di laut kita jaya, kita kuasai 7 Samudera".

Ketua Group Pelaut Indonesia (GPI) Capt.Drs.Darul Makmur MM MMar pada kesempatan itu mengakui dari beberapa kali diskusi dimilist diketahui bahwa sampai saat ini para pelaut Indonesia dalam mencapai dan menuju ke kapal sejak dari Kota Jakarta sampai di kapal di luar negeri (LN) melewati beberapa pos."Ujung-ujungnya duit sejak di pintu gerbang, airport, sampai pelabuhan.Soal ngurus dokumen, ini memang masalah berat.Jangan terlalu banyak berharap pada GPI ibarat bayi baru lahir. GPI baru lahir perlu dukungan semua pihak. Jadikan pelaut Indonesia sejahtera dari awal sampai akhir"katanya.

Menurutnya, dari hasil diskusi lewat email sejak tanggal 28 Juli 1999 diperoleh hasil antara lain masalah pendidikan pelaut, cara mencapai dan menuju kapal ke LN yang melewati beberapa pos, dan penguasaan bahasa Inggris yang minim."Inilah yang diperkenalkan kepada pelaut pemula, persiapan apa yang harus dilengkapi, belum lagi masalah keterampilan dan penguasaan bahasa Inggris. Kita bersama-sama mencari jalan keluar untuk menuju kepada kesejahteraan pelaut,"ujarnya.

Dikatakan lagi oleh Ketua GPI Capt.Drs.Darul Makmur MM MMar, dulu pelaut lahir secara alami, jadi penumpang gelap. Setelah itu jadi crew kapal diurus buku pelautnya, dan dapat pasport.Maka dengan adanya SCTW tahun 1978 yang direvisi tahun 1985 para pelaut wajib punya sertifikat,maka mulai ada kompetisi dan skill atau keterampilan khusus yang harus dikuasai para pelaut Indonesia."Lewat email diskusi, cari saran, beri petunjuk yang detail, maka hari ini ada website.Pelaut Indonesia diharapkan dapat sejajar dengan pelaut asing, meskipun para pelaut Indonesia masih sering dilecehkan dan kurang dihargai di luar negeri. Jadi sudah saatnya semua komponen bangsa Indonesia, termasuk pelaut Indonesia berusaha memperbaiki diri, supaya kita dapat dihargai. Melalui GPI kita bisa diskusikan masalah-masalah pelaut, sebab tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi.Apalagi saat ini kapal sudah terhubung dengan internet, kami terbuka dua puluh empat jam, siapa saja bisa bergabung dengan milis ini,"ucapnya.

Capt.Drs.Darul Makmur MM MMar selaku Ketua GPI berharap organisasi yang telah ada untuk bersama-sama memperjuangkan nasib pelaut dimasa depan."Kita perlu diskusi untuk kata sepakat, meskipun ini memang berat.Kurang dalam implementasinya, ini yang jadi kita kurang dihargai di luar negeri,"selanya seraya menambahkan AD/ART GPI sudah didiskusikan selama 4 bulan, dan diharapkan dalam dua bulan mendatang GPI yang memiliki AD/ART.

Sementara Capt.Budi yang mewakili pelaut menambahkan para pelaut Indonesia memang sampai saat ini hanya jadi "obyek" baik dalam pengurasan dokumen-dokumen, maupun urusan di imigrasi."Akan kita hapus semua penghalang-penghalang ini. Hari ini merupakan hari bersejarah bagi para pelaut Indonesia. Dan, menjadi suatu pertanyaan apa betul saya seorang pelaut. Kami tahu perkembangan pelaut masih mengecewakan,"tegas mantan Angkatan Laut RI yang pernah berlayar selama 15 tahun ini dan saat ini menjadi dosen di Stigmar "AMI".

Sedangkan Capt.Ferry Runtungan mewakili user pada kesempatan itu mengatakan masalah-masalah yang dihadapi para pelaut Indonesia selama ini tidak terakomodir dengan baik."Sejak tahun 2006 sampai tahun 2007 lalu sebanyak 4700 kapal dibuat untuk menggantikan kapal-kapal yang telah ada, sehingga lebih banyak pelaut dibutuhkan. Pelaut Indonesia sebenarnya sudah mampu bersaing dengan pelaut asing, tetapi bahasa Inggris perlu terus ditingkatkan. Kami mewakili user sekitar 80 kapal dari berbagai jenis yang memerlukan perwira-perwira pelaut. Agak sulit saat ini untuk mencari pelaut perwira,"katanya sambil mengharapkan GPI bisa jadi wadah pelaut Indonesia untuk tingkatkan kompetisi.

Sementara itu Sekretaris Group Pelaut Indonesia (GPI), Capt.Ananta Gultom , yang dihubungi di Batam via telepon berkomentar bahwa GPI adalah suatu wadah kepelautan yang mengantisipasi dengan perkembangan jaman lewat informasi dan teknologi yaitu saling "berinteraksi" melalui jaringan internet."Melalui sarana internet banyak ditemukan keluhan-keluhan para pelaut Indonesia termasuk kepada organisasi pelaut yang sudah ada. Dengan internet pelaut Indonesia bisa berkumpul dalam sebuah group pelaut, sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi akan transparan. GPI jadi organisasi terbuka, bisa memantau perkembangan pelaut dan perusahaan pelayaran setiap saat. Melalui internet segala permasalahan pelaut akan terungkap secara lengkap, cepat, dan bisa langsung merespon masalah-masalah yang ada, termasuk dengan perusahaan pelayaran,"jelasnya.

Dikatakan Capt.Ananta Gultom lulusan dari AIP tahun 1980-an ini, ke depannya setelah ada legalisasi, GPI akan mulai memikirkan ketentraman dan kepastian akan masa depan para pelaut Indonesia."Sebagai suatu wadah organisasi pelaut yang resmi. nantinya GPI akan mencoba masuk ke jalur birokrasi dan wakil rakyat guna memperjuangkan harkat dan martabat para pelaut Indonesia. Ke depannya GPI juga akan melakukan semacam training-training serta pelatihan guna meningkatkan standarisasi, sehingga dapat sesuai dengan keinginan perusahaan pelayaran,"ucapnya.

Pergaulan Internasional

Sementara itu Group Pelaut Indonesia (GPI) dalam siaran pers usai peluncuran website dengan alamat http://indonesianseafarer.com menyebutkan bahwa GPI adalah organisasi pelaut Indonesia yang bertujuan memperjuangkan keberadaan pelaut Indonesia dikancah pergaulan internasional. Organisasi ini adalah dari pelaut, untuk pelaut dan oleh pelaut.GPI hadir karena kebutuhan pelaut untuk bersama mengangkat harkat dan martabat pelaut. GPI menjelma untuk memperbaiki masa depan dan kesejahteraan pelaut beserta keluarganya.

GPI diharapkan dapat menyediakan komunikasi timbal balik antara GPI dan anggotanya secara terbuka dalam rangka bersama meniti jalan menuju visi dan misi mulia GPI untuk mensejajarkan pelaut Indonesia dengan pelaut mancanegara.

Dalam diskusi dimilist pelaut@yahoogroups.com, terlontar ide untuk membentuk organisasi yang tanggap dan mengerti tentang kebutuhan anggota.Diskusi berjalan sejak 23 Januari, kemudian 3 bulan lalu muncul lagi permintaan yang sama untuk merealisasikan organisasi secara nyata dan legal.Pembentukan ini buat pertama didukung penuh oleh 54 orang, dan anggota milist terdaftar sebanyak 2083 orang (data 26 Juli 2008).

Dalam rangka menyambut kebutuhan anggota pada tanggal 28 Juni 2008 diadakan pertemuan anggota (copy darat) pertama di kantor PT.Oriental Energy, Ruko Puri Botanical, Blok H-9 No.11, Jalan Meruya Selatan, Joglo, Jakarta Barat.

Dalam rapat pembentukan disepakati :

1. GPI telah terbentuk dengan nama sementara "Indonesian Seafarer Society (ISS)". Nama ini bisa dirobah sebelum dilegalkan oleh akte notaris (para anggota dipersilahkan untuk mengajukan nama yang lebih cocok).

2. Legalisasi akan dilakukan 2 bulan setelah tanggal 28 Juni 2008.

3. Pengurus sementara (pengurus tetap akan dipilih kemudian)

Ketua : Capt.Drs.Darul Makmur MM MMar

Sekretaris : Capt.Ananta Gultom

Bendahara : Sugianto Thoha

4. Domisili di Jakarta (sementara di kantor PT.Oriental Energy)

5. Visi : ingin melihat pelaut Indonesia menjadi kebanggaan bangsa sekaligus menjadi pahlawan devisa yang bermartabat

6. Misi :career development, kesejahteraan, dan bekerja untuk pelaut

7. Rencana kerja :membuat website sebagai media komunikasi.Melakukan registrasi pelaut dengan membuat master database.

By : Lasman Simanjuntak :lasman_simanjuntak [at] yahoo.com

Friday, 8 August 2008

PERESMIAN GPI - 08 Agustus 2008 jam 08:08


Dalam suasana sederhana tapi khidmat hari ini tanggal 08 Agustus 2008, tepat pukul 08:08:08, 8 kali dibunyikan lonceng tanda peresmian pembentukan GPI (Group Pelaut Indonesia) atau ISS (Indonesian Seafarer Society) beserta launching website www.indonesianseafarer.com

Acara tersebut bertempat di aula Sekolah Tinggi Maritim (STIMAR) AMI/ASMI Pulo Mas Jakarta. Selain di hadiri oleh para pelaut yang masih ‘melaut ‘ acara tersebut di hadiri pula oleh pihak akademisi, mantan-mantan pelaut yang sudah berkiprah di darat, seperti dari perusahaan-perusahaan pelayaran, asosiasi pemilik kapal, offshore, asuransi, media cetak,TVRI, dan banyak lagi profesi mereka yang lainnya.

Dalam sesi tanya jawab banyak hal-hal menarik yang mengemuka. Seorang penanya dari STIMAR menanyakan bagaimana pelaut yang sedang berlayar bisa turut men’coblos’ pada saat pemilu. Penanya lain bertanya bagaimana dan langkah-langkah apa saja yang akan di ambil oleh GPI demi mewujudkan cita-cita luhur untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Pelaut Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di jawab oleh ketua GPI Capt Darul Makmur, sesepuh pelaut Capt Pudji Sumarto dan Bapak Boyke Budiman.

Memang tidak banyak yang bisa diberikan oleh bayi GPI yang baru saja lahir, problem yang di hadapi pelaut Indonesia begitu rumit dan kompleks. Akan tetapi sebuah tonggak pengukuh telah dipancangkan, dengan modal kepercayaan dari para anggota dan tekad yang kuat mudah-mudahan kedepannya GPI mampu memberikan jawaban dan solusi bagi pemecahan problem-problem yang di hadapi oleh pelaut Indonesia.

Mayoritas jawaban adalah, marilah kita diskusi bersama semua masalah, dicari jalan keluar secara bersama dan kemudian diusahakan memperjuangkan penyelesaian menurut hasil diskusi tersebut. Dengan memakai kepala yang banyak sudah barang tentu keputusan dan kekuatan hasil diskusi tersebut akan membuat lebih baik dan lebih dapat diterima. Untuk itulah diperlukan kebesamaan disini, marilah bersama mendukung GPI dengan mendaftarkan diri, bagi yang belum mendaftar. Dan dengan ikut serta memberi pendapat dan koreksi membangun bagi yang telah menjadi anggota.



Jayalah Pelaut Indonesia!!!!



By :ISS Blog

Monday, 4 August 2008

Rekaman Suara Pilot Adam Air , Asli atau Palsu ?

By :ISS Blog
Dikutip dari Kompas dot Com :

Meragukan

Pemerhati penerbangan F Djoko Poerwoko meragukan keotentikan transkrip dan rekaman suara pilot AdamAir. Menurut dia, semua hasil rekaman suara di kokpit bentuknya digital sebelum ditransfer menjadi grafis, bukan analog, seperti yang beredar. Djoko, mantan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional, bahkan tidak pernah percaya bahwa kotak hitam AdamAir ditemukan.

Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal mengatakan, rekaman asli percakapan pilot yang terekam dalam kotak hitam masih berada di kantor KNKT. Menurut dia, rekaman yang beredar itu tidak asli dan tidak orisinil.

Jusman menyebutkan, rekaman yang beredar itu sangat menyesatkan publik sebab tidak ada seorang ahli yang dapat menyusun model skenario kecelakaan hanya atas dasar rekaman pembicaraan. ”Harus ada bukti lain yang bisa menguatkan, seperti rekaman kotak hitam kedua,” kata Jusman.

Rekaman yang disebut-sebut dari kotak hitam pesawat itu dipastikan bukan berasal dari Air Traffic Control (ATC) Bandar Udara Hasanuddin, Makassar. ATC Bandar Udara Hasanuddin pun tak bisa memastikan asli-tidaknya rekaman itu karena tidak ikut menangani blackbox yang diangkat dari perairan Majene pada Agustus 2007.

Hal itu diungkapkan General Manager ATC Bandar Udara Hasanuddin Edi Amiruddin, Sabtu, terkait berkembangnya isu telah beredarnya rekaman blackbox AdamAir berembus sepekan terakhir.